Setiap alur otomasi akan putus suatu hari. API pihak ketiga berubah, kredensial kedaluwarsa, jaringan hilang di tengah proses. Pertanyaannya bukan apakah gagal, tapi apa yang terjadi ketika gagal.
Alur rapuh berhenti diam-diam. Baru ketahuan seminggu kemudian saat ada yang bertanya kenapa laporan tidak masuk. Kerugiannya bukan hanya waktu tunggu, tapi kepercayaan yang tidak kembali.
Empat hal yang kami pasang di setiap alur: idempotensi supaya menjalankan ulang tidak menghasilkan data ganda; antrean ulang dengan jeda menaik untuk kegagalan sementara; notifikasi ke kanal yang benar-benar dibaca orang; dan jejak audit yang bisa dibaca tanpa membuka basis data.
Satu prinsip lagi: jangan otomatiskan 100%. Kasus yang ambigu sebaiknya naik ke manusia. Alur yang menyerahkan 9% kasus ke orang jauh lebih berguna daripada alur yang memaksakan semuanya dan salah 12% tanpa memberi tahu siapa pun.
